Beranda > Pendidikan > DEKONSTURKSI PENDIDIKAN

DEKONSTURKSI PENDIDIKAN


Oleh: Irfa Fahd Rizal

Pendidikan merupakan bidang yang penting bagi kemajuan sebuah bangsa. Dalam pendidikan, suatu bangsa akan menghasilkan kelompok masyarakat tertentu yang dapat menjadi ciri suatu bangsa. Keadaan sosial dalam tatanan masyarakat tidak lepas dari pendidikan didalamnya. Selain itu sitem budaya, politik, hukum dan ekonomi suatu wilayah juga sangat terkait dengan pendidikan di wilayah tersebut. Bahkan adanya pendidikan dapat dikatakan sama dengan keberadaan umat manusia itu sendiri 1. Adalah sebuah keniscayaan dalam kehidupan manusia disana terdapat proses pendidikan baik formal maupun non-formal.

Tidak dapat dipungkiri bahwa sejarah bangsa kita dipengaruhi oleh pendidikan. Soekarno, Moh Hatta, Sutan Syahrir adalah beberapa yang menjadi penggerak kemerdekaan bangsa ini, merupakan orang-orang terpelajar, dengan kata lain mereka adalah orang-orang yang bersinggungan dengan dunia penididikan. Tidak terkecuali peran Ki Hajar Dewantara yang telah meletakkan fondasi-fondasi pendidikan di Indonesia. Ki Hajar selain tercatat sebagai pahlawan nasional, juga dikenal dengan Bapak Pendidikan Indonesia, bahkan kelahiranya dijadikan hari pendidikan Nasional. Falsafahnya tentang pendidikan maupun pemikiran-pemikiraya merupakan konsepsi dasar pendidikan Indonesia 2.
Selain itu perkembangan pendidikan di Indonesia dari masa kemasa-masa merupakan kontribusi rakyat yang mau memperjuangkan pendidikan, dengan tidak bersikap masa bodoh.3

Pendidikan sendiri memiliki arti yang sangat luas, baik pemaknaan definitif maupun arti teknisnya. Menurut Siswoyo (2008) kegiatan teknis pendidikan merupakan proses transformasi pengetahuan, nilai-nilai dan ketrampilan oleh masyarakat melalu lembaga-lembaganya (sekolahan, perguruan tinggi, dan lembaga-lembaga lain). Secara filosofis Dewey (dalam Siswoyo, 2008) mengtakan pendidikan merupakan rekonstruksi pengalaman yang menambah makna pengalaman. Selain itu ahli pendidikan dan seorang filusuf asal indonesia, Diryakara mengungkapkan bahwa pendidikan adalah pemanusiaan manusia muda. 4. Namun relitas didalam dunia pendidikan tidak menunjukkan koherensi yang sesuai dengan pendapat kedua tokoh tersebut.

Pelaksanaan pendidikan di Indonesia belum benar-benar mengarah pada rekonstruksi maupun reorganisasi dari sebuah pengetahuan pada penambahan makna. Dalam hal ini konsep pendidikan Dewey beranggapan bahwa pendidikan bukanlah sebuah penyampaian informasi semata, bukanlah tranfer pengetahuan. Namun lebih dari itu agar dalam proses pendidikan menciptakan snitetis-sintetis baru. Pendapat Diryakara menunjukkan agar pendidikan lebih menjadikan peserta didik sebagai subjek. Diryakara mengarahkan agar pendidikan menjadikan manusia seutuhnya.

Bicara pendidikan di bangsa ini tentu tidak akan lepas dari tujuan penididikan nasional. Pendidikan nasional merupakan konsepsi pendidikan yang dirumuskan oleh para ahli pendidikan di Indonsia. Rumusan pendidikan nasional sangat diperlukan. Karena dalam mencapai tujuan yang jelas dalam suatu bidang dibutuhkan goal yang jelas. Adanya rumusan tentang tujuan pendidikan nasinoal menunjukkan bahwa bangsa ini benar-benar memiliki keserusan dalam pendidikan. Karena memang pendidikan nantinya erat kaitanya dengan pembangunan bangsa dan negara.

Terdapat dua tujuan pendidikan nasional yang tersirat dalam UUD 1945, yaitu 5:
a. Pendidikan yang mencerdaskan kehidupan bangsa.
b. Pendidikan adalah hak seluruh rakyat.

Tujuan pendidikan nasional merupakan suatu kondisi yang dituju, yang diinginkan dan yang dikehendaki. Bedasar dua hal diatas Pendidikan di Indonsia menginginkan pada terciptanya masyarakat yang cerdas. Masyarakat yang cerdas atau mencerdaskan kehidupan bangsa tentu bukanlah membiarkan bangsa ini terus menerus menjadi bangsa yang mengekor, yang hanya dapat mengikuti bangsa-bangsa lain yang telah maju. Bangsa yang cerdas bukanlah bangsa yang masih larut dan kemudian menjadi korban neo-liberalisme. Terdapat tiga ciri bangsa yang masih terjajah neo-liberalisme seperti Indonesia. Pertama: dijadikanya sebuah negara sebagai pemasok bahan mentah. Kedua: negara tersebut merupakan penyedian tenaga kerja murah. Ketiga: negara korban noe-liberalisme yang diperdayai oleh pelaksanaan faham kapitalisme, dijadikan negara-negara “jajahan”. Penjajahan bentu baru yaitu menjajah dengan cara menjdaikan negara terjajah sebagai tempat pasokan hasil Industri. Maka sudah seharusnya bangsa ini merenungkan makna “mencerdaskan kehidupan bangsa” yang terdapat dalam tujuan pendidikan nasional tersebut. Sistem pendidikan dengan sendirinya tampak sebagai insturmen yang sudah ada. Menjadikan peserta didik menjadi pekerja-pekerja, bahkan lebih dari itu pendidikan terkesan hanya mengrahkan pada peserta didik menjadi lulusan-lulusan dengan perimbangan yang laku di pasaran. 6. Pelaksanaan pendidikan belum benar-benar mengarah pada mencerdaskan kehidupan bangsa.

Selain itu akses pendidikan yang belum merata menyentuh seluruh lapisan masyarakat bangsa ini menjadi pertanyaan lanjutan tentang pencapaian tujuan pendidikan nasional di Indonesia. Pendidikan masih menjadi sesuatu yang hanya mimpi bagi kaum miskin, pendidikan masih menjadi barang langka bagi berbagai daerah di Indonesia yang jauh dari pusat pemerintahan.

Jika dalam pelaksanaanya pendidikan masih harus dikawal untuk benar-benar mencapai tujuan pendidikan nasional, maka pengeruhnya bagi masyarakat pun masih tidak terlampau signifikan. Maka dalam hal ini masyarakat sebagai pihak yang nantinya akan mendapatkan akibat dari kemajuan pendidikan sudah semestinyalah ikut berperan dalam pengembangan pendidikan di negri ini. Selain pemerataan hal lain yang juga perlu diperhatikan adalah tentang mutu pendidikan di Indonesia yang masih dipertanyakan oleh masyarakat. 7

Karakter pendidikan juga dapat dilihat dari policy (Kebijakan) pendidikan itu. Di Indonesia selama masa reformasi dalam bidang sosial politik terjadi loncatan-loncatan dalam berbagai macam sistem. Termasuk banyaknya perubahan yang terjadi dalam organisasi pendidikan. Lahirnya UU No. 32 tahun 2004 tentang Pemerintah daerah memberiakan imbas pada dunia pendidikan dengan lahirnya Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). KTSP yang awalnya mewadahi aspirasi daerah, namun dalam pelaksanaanya menjadi tidak jelas oleh karena masih ditentukan pemerintah pusat. Bahkan menjadi semakin tidak bermakna dengan tatap diberlakukanya UN yang sangat sentralistik.8. Kebijakan lain yang banyak ditentang adalah dijadikanya beberapa PTN menjadi BHMN 9. Dengan berdalih memberikan otonomi yang lebih luas pada pihak perguruan tinggi. Namun sesungguhnya pemerintah melepaskan tanggung jawab. Hal terebut berimbas pada naiknya biaya pendidikan pada perguruan tinggi yang kini statusnya BHMN. Praktis menjadikan akses pada PT BHMN menjadi milik segelintir orang. Perguruan tinggi bermutu satu demi satu dijadikan BHMN, sehingga menjadikan akses masyarakat menengah kebawah dan orang miskin semakin sulit. Jika hal tersebut diteruskan maka akan sangat menghambat transformsi sosial di Indonesia.

Dekonstruksi pendidikan kemudian diperlukan melihat pelaksanaan pendidikan yang cenderung rutinitas, jauhnya kenyataan dari tujuan pendidikan dan model pedidikan. Hal yang menjadi fokus dekonstruksi Derrida adalah mengenai instabilisasi bahasa, tapi keritik dekonstruksi Derrida ditujukan pada seluruh sistem. 10. Sedangkan dekonstruksi dalam pendidikan lebih bagaimana membongkar hegemoni istitusi yang kemudian melanggengkan status quo. Dekonstrusi juga ditujukan pada metode-metode, praktek pengajaran yang kaku, sentralistik, dogmatik, serta menggunakan ideologi yang dominan.11 Selain itu sistematisasi keliruan yang terjadi dengan melanggengkan sebuah tradisi juga merupakan maksud dari dekonstruksi. Dengan nalar dekostruksi peroses pembentukan paradigma tidak lagi dengan mentah oleh karena tindakan dogmatis. Juga agar pendidikan tidak menyimpang dari tujuan filosofis oleh karena terjebak dalam sistem. Sehingga pendidikan akan lebih mengarah pada rekonstruksi / reorganisasi pengetahuan. Selain itu proses memanusiakan manusia muda dilakukanya dengan terbukanya kritik pada pendidikan.

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: