Beranda > Isu Sosial > PRAGMATISME MAHASISWA

PRAGMATISME MAHASISWA


Oleh: Irfa Fahd Rizal

Seiring dengan perkembangan jaman, perkembangan kebudayaan masyarakat berserta dengan pola pikirnya pun terus berubah. Masyarakat Indonesia, yang termasuk sebagai negara berkembang pun mengikuti arus yang terjadi dalam arus globalisasi.

Perkembangan pola pikir manusia terus dihujani dengan realitas yang matrealististis, menjadikan manusia itu sendiri sangat berorientasi matrealistis. Menurut Kuntowijoyo (1999) matrealisme itu sendiri sekarang sudah merupakan bagian dari kehidupan itu sendri.

Penilaian manusia yang sudah mengarah pada sesuatu yang lebih nyata dan jelas hampir tidak bisa dibdakan antara suatu golongan dengan golongan yang lainya, dari mulai masyarakat kota, masyarakat pedesaan, para bisnisman, politisi dan negarawan, bahkan para intelektualitas itu sendiri. Menjadi menarik ketika fenomena ini dikaitkan dengan simbul intelektual, icon figur yang memliki wawasan dibangsa ini, yaitu mahasiswa. Sebagai para penuntut ilmu dibangku universitas-universtas, mahasiswa tidak luput dari paradigma matrealisme itu. Oleh karena itu bukan hal yang aneh ketika kemudian pola fikir yang berkembang dalam benak intelektula muda kita adalah sangat pragmatis. Bahkan dalam menjalani proses pendidikan sekalipun.

Sebagaimana judul yang tertulis diatas penulis merasakan kemudian adanya pegeseran pola penangkapan proses pendidikan yang terjadi dengan pragmatisme para mahasiswa. Mahasiswa dapat dibilang menjadi proses pendidikan sebuah proses transaksional. Hal ini tampak dalam bagaimana cara pandang yang mahasiswa tentang tujuan maupun orientasinya setelah menyelasaikan proses study di Perguruan Tinggi, tidak sedikit diantara meraka yang mengatakan: “pokoknya setelah lulus S1, harus kerja dengan gaji minimal 2jt”. Ataupun juga menganggap bahwa semua yang dikeluarkan dalam proses pendidikan harus sebanding dengan apa yang dikeluarkan, sehingga menjadi tidak penting rasanya untuk melanjutkan pada jenjang selanjutnya, pada jenjang pascasarjana, pada program magister apalagi program doktoral.

Menjadi hal yang lumrah bahwa hal yang sangat difokuskan para mahasiswa kita setelah lulus adalah agar dapat bekerja. Namun ketika hanya mengarah pada kerja dan kerja seperti yang terfikirkan didalam kebanyakan benak mahasiswa, menunjukkan pragmatisme pemikiran mereka. Pragmatisme sendiri ditumbuhkan oleh William James (1842-1910), seorang profesor dari Harvard pada 1907 dengan buku pragmatism. Pokok dari teori kebenaran tentang pragmatise ialah, kepercayaan itu benar dan hanya kalau berguna. Ukuran dari kebenaran ialah, apakan suatu kepercayaan dapar menantarkan orang pada tujuan. Pragmatisme menolak pandangan tentang kaum rasionalis dan idealis, karena pandangan mereka tidak berguna dalam kehidupan praksis. Oleh karena itu dalam pandangan pragmatisme, semua hal akan tertuju pada fungsi praksisnya. Sebagaimana hal tersebut, fenomena yang terjadi dalam pola pandang mahasiswa di Indonesia ini mengarah pada pandangan tersebut. Dimana proses belajar mengajar tidak berasal dari padangan idelisme untuk menuntut ilmu pengetahuan, maupun pendapat untuk mencari kebenaran rasional, yang dalam pandangan pragmatis dikatakan tidak berguna. Namun berbeda dengan tersebut, perkuliah yang dijalani mahasiswa dilihat sebagai sebuah proses yang sangat berguna, karena akan meningkatkan nilai seorang individu yang sarjana daripada yang lulusan SMU misalnya. Pandangan pragmatisme tampak lagi ketika sebagaian mahasiswa dapat dikatakan hanya memikirkan pekerjaan setelah lulus. Selain itu tampak pula, pada beberapa mahasiswa yang memutuskan untuk putus kuliah (mahasiswa yang sebenarnya mampu) oleh karena sudah memliki penghasilan sendri, baik menjadi karyawan maupun sebagai wiraswasta dengan asumsi, “buat apa kuliah kalau ujung-ujungnya cari uang, sedangkan sekarang cari uang pun sudah bisa”.

Perilaku mahasiswa yang menjadi pragmatis dalam menjalani pendidikan dapat disebabkan oleh berbagai hal yang mempengaruhi. Pengaruh dapat diakibatkan dari pengalaman masa lampau, maupun akumulaisi pengalaman yang kemudian membentuk sebuah pandangan hidup. John Dewey mengatakan bahwa perilaku kita tidak sekedar muncul berdasarkan pengalaman masa lampau, tetapi juga secara terus menerus berubah atau diubah oleh lingkungan – “situasi kita” – termasuk tentunya orang lain. Manusia tidak menanggapi lingkungannya secara otomatis. Perilaku mereka tergantung pada bagaimana mereka berpikir dan mempersepsi lingkungannya. Jadi untuk memperoleh informasi yang bisa dipercaya maka proses mental yang kemudian meyakini kebenaran pragmatis seseorang merupakan hal utama yang bisa menjelaskan perilaku sosial seseorang, yang kemudian menjadikan segala sesuatu pada asas kegunaan.

Hal yang kompleks yang kemudian menjdaikan mahasiswa di Indonesia berpandangan pragmatis memang dipengaruhi dari berabagai aspek. Selain itu dalam melihatnyapun dapat mengunkan dengan beberapa kerangka teoritis. Ada 3 teori yang penulis gunakan dalam melihat fenomena pragmatisme yang terjadi pada mahasiswa di Inodnesia dewasa ini.

Teori Peran (Role Theory)

Teori Peran menggambarkan interaksi sosial dalam terminologi aktor-aktor yang bermain sesuai dengan apa-apa yang ditetapkan oleh budaya. Sesuai dengan teori ini, harapan-harapan peran merupakan pemahaman bersama yang menuntun kita untuk berperilaku dalam kehidupan sehari-hari. Menurut teori ini, seseorang yang mempunyai peran tertentu misalnya sebagai dokter, mahasiswa, orang tua, wanita, dan lain sebagainya, diharapkan agar seseorang tadi berperilaku sesuai dengan peran tersebut. Mengapa seseorang belajar orang, karena dia adalah seorang mahasiswa. Jadi karena statusnya adalah mahasiswa maka dia harus belajar. Perilaku ditentukan oleh peran sosial. Selain itu ada juga peran lain yang dimaikan oleh mahasiswa yaitu sebagai tenaga-tenaga terpelajar. Kebutuhan perusahaan akan tenaga-tenaga terpelajar bergelar sarjana kemudian mengrahakan mahasiswa pada tenaga produksi dalam ekonomi.

Teori Pernyataan Harapan (Expectation-States Theory)

Teori ini diperkenalkan oleh Joseph Berger dan rekan-rekannya di Universitas Stanford pada tahun 1972. Jika pada teori peran lebih mengkaji pada skala makro, yaitu peran yang ditetapkan oleh masyarakat, maka pada teori ini berfokus pada kelompok kerja yang lebih kecil lagi. Menurut teori ini, anggota-anggota kelompok membentuk harapan-harapan atas dirinya sendiri dan diri anggota lain, sesuai dengan tugas-tugas yang relevan dengan kemampuan mereka, dan harapan-harapan tersebut mempengaruhi gaya interaksi di antara anggota-anggota kelompok tadi. Sudah menjadi atribut tersendri dimana mahasiswa sebagai orang-orang yang mempelajri suatu disiplin ilmu kemudian diharapkan dapat menjadi ahli dibidangnya. Oleh karena itu profesionalisme kemudian menjadi hal yang mutlak. Mejadikan mahasiswa pada suatu disiplin ilmu tidak telampau peduli dengan disiplin lainya, termasuk masalah kebangsaan. Pandangan pragmatisme mendapat apology dengan profesionalisme yang dituntut dari seorang mahasiswa kelak. Kemudian ketika teori pernyataan harapan ditarik pada ranah yang lebih mikro, pada sekup keluarga dan lingkungan kecil mahasiswa. Hampir sebagaian besar orang tua yang mengharapakan anaknya yang kuliah, untuk kemudian mendapatkan pekerjaan yang layak setelah lulus.

Posmodernisme (Postmodernism)

Baik teori peran maupun teori pernyataan-harapan, keduanya menjelaskan perilaku sosial dalam kaitannya dengan harapan peran dalam masyarakat kontemporer. Beberapa psikolog lainnya justru melangkah lebih jauh lagi. Pada dasarnya teori posmodernisme atau dikenal dengan singkatan “POSMO” merupakan reaksi keras terhadap dunia modern. Teori Posmodernisme, contohnya, menyatakan bahwa dalam masyarakat modern, secara gradual seseorang akan kehilangan individualitas-nya – kemandiriannya, konsep diri, atau jati diri. (Denzin, 1986; Murphy, 1989; Dowd, 1991; Gergen, 1991) . Dalam pandangan teori ini upaya kita untuk memenuhi peran yang dirancangkan untuk kita oleh masyarakat, menyebabkan individualitas kita digantikan oleh kumpulan citra diri yang kita pakai sementara dan kemudian kita campakkan.. Berdasarkan pandangan posmodernisme, erosi gradual individualitas muncul bersamaan dengan terbitnya kapitalisme dan rasionalitas. Faktor-faktor ini mereduksi pentingnya hubungan pribadi dan menekankan aspek nonpersonal. Kapitalisme atau modernisme, menurut teori ini, menyebabkan manusia dipandang sebagai barang yang bisa diperdagangkan – nilainya (harganya) ditentukan oleh seberapa besar yang bisa dihasilkannya. Kepribadiannya hilang individualitasnya lenyap. Itulah manusia modern, demikian menurut pandangan penganut “posmo”. Perilaku seorang mahasiswa menjadi tidak lagi tampak karakteristiknya secara individu, namun dapat dirsakan fenomenanya secara umum, yang memposisikan pendidikan dengan pragmatis.

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: