Beranda > Logika > BAHAYA SUBJEKTIVITAS MANUSIA

BAHAYA SUBJEKTIVITAS MANUSIA


Dalam mempelajari dan melaksanakan segala sesuatu di dunia ini ternyata kuncinya hanya satu. Hal yang menarik adalah hal itu telah disampaikan oleh nabi kita Muhammad SAW. Peristiwa ini memberikan kejelasan bahwa sesuatu yang di ucapkan oleh nabi tidak sekedar omongan belaka, namun tetlah mengandung unsur pengtahuan tuhan berdasar wahyu yang telah ia terima.

Adapun Sabda beliau adalah “Khoirul umuri, ausatuha”. Merupakan hadist yang tidak panjang dan sepintas merupakan hal yang ringan. Namun mari kita telaan lebih jauh.

Arti hadist tersebut adalah sebaik baik perkara adalah tengah-tengahnya, tentu semua orang telah memahami kata-kata tersebut, atau lebih jauh dari itu sebagian besar orang sepakat atas pernyataan tersebut. Bagi manusia sendiri telah memahami adanya kata-kata extrim, terlalu, sangat, yang kemudian mengarah pada konotasi yang negative.

Ibadah

Misalnya saja seorang muslim yang terlalu bersemangat dalam menagmalkan ibadah, ataupun memcoba memasukkan berbagai hal pada nilai-nilai yang islami, tidak sedikit kemudian menimbulkan bid’ah-bid’ah yang dibenarkan, oleh karena penambahan-penambahan ibadah yang tujuan awalnya mengamalkan nilai-nilai keislaman namun kebablasan dan menagrah pada iabadah yang tidak ada tuntunannya sama sekali.

Sedangkan extrimis lain, mencoba menghilangkan hal-hal yang baru yang tanpa tuntunannya. Dengan dalih menumpas bid’ah-bid’ah dalam agama islam, juga menatas namakan gerakan yang akan mengembalikan islam yang murni. Juga menimbulkan sikap yang extrim, dengan melarang upacara a, melarang budaya b, melarang tindakan ini dan itu, ketika tidak mempedulikan nilai-nilai kebudayaan yang bermanfaat jika dilestarikan, atupun juga tidakbisanya memahami pesan implisit yang terkandung di dalamnya akan menimbulkan pendangkalan agama. Hal ini sangat ironis, ketika segolangan muslim dengan tujuan sucinya “mengembalikan ajaran islam yang murni” malah kemudian mengarahkan pada pendangkalan agama oleh karena semagat yang berlebihan dengan tanpa di dasari oleh pengkajian yang mendalam terhadap suatu perkara.

Mu’amalah

Waktu yang digunakan manusia dalam bermu’amalah dalam keseharian tentu juga memberikan permasalahan tersendiri dalam hal ini.  Misalnya saja dalam perkara perdagangan, seorang pemegang teguh kapitalisme akan mempertahankan untuk memndapatkan laba yang sebsar-besarnya, yang kemudian membarikan dampak bagi kesejahteraan kariyawannya, oleh karena mendapatkan pendapatan yang minim.

Pada pihak lain ada yang berprinsip tidak mengambil keuntungan yang besar, dengan dalih yang penting untung. Alhasil pengusaha ini tidak mampu berkembang bahkan acapkali tidak mampu untuk mempertahankan usahanya, yang seharusnya pengengmbangan usaha dapat mengayomi orang yang lebih banyak.

AUSATUHA

Pada contoh kasus tentang ibadah dan mu’amalah di atas tidak bisa dengan mudah dipersalahkan daiantara kedua belah pihak. Selalu munculnya golongan dari kedua belah pihak tersebut pastilah telah mempunyai alasan sebelumnya, bahkan wujud munculnya aksi dan suara dari pihak-pihak tersebut menunjukkan keyakinan mereka pada prinsipnya masing-masing, yang tentu saja berdasar pendapat masing-masing.

Ironisnya tidak sedikit yang mengetahui “Khoirul umuri, ausatuha” dan kemudian merasa telah melaksanakan yang terbenar dari yang paling benar.

Hal tersebut menjadi semakin jelas bahwa penyelesaian sebuah perkara memang yang paling baik adalah untuk tidak extrim pada pihak manapun, namun ada terdapat hal yang lebih penting dari itu adalah bagaimana menilai dan mengamalkan tindakan yang tidak extrim. Dimana pada sustu pihak, nilai 90 dirasakan sebagai nilai yang terlalu tinggi dan dipihak lain, nilai 130 dianggap telalu rendah. Oleh karena itu dalam menilai dan mempersepsi segala sesuatu dikaji secara kompleks dan tidak parsial-parsial. Hal-hal yang dapat menghindarkan dari pendapat subjektivitas adalah mencoba memahami sudut pandang lain. Sehingga dengan hal tersebut akan terlihat titik potong perbedaan, setelah sebelumnya benar-benar memperhatikan hal-hal berikut ini;

  • Ilmu pengetahuan interdisipliner
  • Pemahaan suatu permaslahan dengan kompleksitas hal-hal yang berhubungan
  • Kecermatan dalam mengetahui hubungan
  • Kepekaan dalam memahami hal-hal yang implicit dari pada sekedar yang eksplisit
  • Pada taraf tertentu harus jelas batasanya, seperti pada hukum-hukum agama yang tidak bisa ditawar (tentu dalam memahaminya dibutuhkan semua hal diatas)
Kategori:Logika Tag:, ,
  1. Mulkan
    September 6, 2008 pukul 3:25 pm

    Yupz… sebagai manusia kita harus hati2..
    cz pasti subjektif, yang penting adalah bagaimana mengontrolnya.. n jgn egosentris

  2. psychelovers
    Oktober 29, 2008 pukul 1:16 pm

    yupz,
    so kalau melihat dan memandang orang lain hati2..
    jangan sampai menyebar fitnah dan pernyataan yang menyimpang
    hanya karena dugaan subyektif diri kita

  3. Desember 23, 2008 pukul 10:13 pm

    Assalamu’alaikum

    sepi banget FS nyah???!!!!……………….
    komen yah!!!

    1. bukan hadist tapi hadits

    2. kayaknya haditsnya harus ditafsirkan lain deh!!!!!

    3. kalo tafsirku….harusnya dibedakan, antara perkara yang kumulatif dan perkara yang substantif-absolut. Kalau kumulatif, yah…boleh lah kita menjadi golongan yang di tengah-tengah. Tapi dalam hal yang substantif dan absolut, gak ada kompromi…yang ada ya benar atau salah…titik!!!!!!

    4. golongan yang ditengah-tengah tuh bahaya…dalam filsafat mereka disebut kaum AGNOTIS.

    5. kalau kita berbicara tentang subyektif-obyektif.
    a. Yang mendikotomikan subyektif dan obyektif adalah Barat, dalam Islam, subyektif ya bisa jadi yang obyektif…paling tidak, tidak ada dikotomi subyektif-obyektif dalam Islam. Sedangkan konsep dualisme yang mereka gunakan pun bermasalah. Kapan2 bisa ngobrol tentang epistemologi Islam ya Mas.

    b. sedikit aja, dalam epistemologi, bagi Barat yang obyektif ya rasional dan empiris. Sedangkan intuisi, wahyu, dan authority dikatakan subyektif, padahal Islam menggunakan seluruhnya tanpa dikotomi. jadi ya dimanapun wahyu tidak dapat dijadikan acuan, intuisi dan authority apalagi. Nah itu sedikit dari epistemologi.

    c. Kalau teori dualisme yang dipakainya….juga bermasalah, yang paling gampang contoh antara dualisme jiwa dan raga- sehingga PSK itu mengatasnamakan kemiskinan bagi perbuatannya yang dilaknat Allah itu. mereka berdalih, yah itu kan perbuatan lahir saya, tapi saya kan juga sholat, pengajian, dll. Nah ini yang menjadi keliru, mereka menganggap jiwanya bersih sekali tanpa ada hubungan dengan perbuatan lahiriyahnya. Padahal dalam islam, perbuatan lahir dan batin tidak didualisme/ didikotomikan!!!!!! – harusnya built in.
    (kapan-kapan kita bisa ngobrol tentang ilmu sosial profetiknya alm. Pak Kuntowijoyo, kayaknya cocok dan berhubungan, oh ya satu lagi…..bukankah dualisme jiwa dan raga juga merupakan masalah yang masih harus diselesaikan dalam disiplin ilmu psikologi!!!!!!!!!!!!)

    d. Kalau kita pakai teori struktural, maka sebenarnya siapa diantara kita, atau antara Barat dan Timur (islam, red) yang tidak subyektif, semuanya subyektif….sebab argumen kita pastilah didasarkan pada suatu aksioma, entah itu paradigma, doktrin, ato dogma (tahu bedanya gak.he2!!!!). sedangkan kita (islam) dituduh subyektif oleh Barat, dan Barat memproklamirkan dirinya obyektif, sedangkan Obyektif sudah didisinya dengan nilai ‘benar dan baik’. jadi bukan kita.

    e. yang terakhir, masalah free value….hal2 yang disebutkan diatas, menandakan bahwa sebenarnya Barat tidak free value, maka bisa dikatakan sebenarnya dia juga subyektif. Kalau gak percaya, coba tunjukkan, mana ilmu sosial yang free value. (ne bukan pendekatan verifikasi yah, tapi falsifikasi, tahu bedanya gak.he2!!!!!)

    yang ini benar2 terakhir. ha2!!!! kayaknya kita harus banyak belajar yah…apalagi mengenai masalah revivalisme (saya tidak mau menggunakan kata fundamentalisme-sebab juga telah diisi nilai oleh Barat untuk menyudutkan Islam-ada dalam dokumennya RAND CORPORATION, saya punya!!! anda mau?????ha2!!!!!).

    maaf yah komennya banyak banget dan mungkin agak banyak istilah yang aneh2!!! tapi ini karena keterbatasan, pertama…ini di warnet-bayar, jadi saya gak sempet melakukan editing (karena saya bukan editor), yang kedua kalau saya jelaskan satu persatu yah bisa jadi puanjang bgt n jadi tulisan baru!!!!! tapi ini sudah merupakan representasi dari komen saya kok!!!!!!!! dan penting lho, ini kan tentang epistemologi islam, yang harusnya dipunyai oleh orang muslim. maaf, kalau tidak puas, karena saya memang bukan alat pemuas!!!! he2!!!!!!

    kalo ada koreksi ato kritik, terima kasih dan sangat diharapkan…karena saya juga sedang belajar epistemologi, jadi bukan ahlinya, ini hanya “sampaikan kebenaran walau satu ayat’.

    akhir kata, wassalamu’alaikum.

    Tertanda, adik yang selalui menyayangimu dan mencintaimu karena Islam.(Meskipun kadang aku kurang ajar, tapi itu adalah ungkapan kasihku kepadamu saudaraku, he2!!! weleh2….weekk byoooorrr!!!!)
    Amri R

  4. didik
    Juni 20, 2010 pukul 2:53 pm

    mas pinter nulis kayak,tapi sulit memahami tulisannya sendiri. pa lg melaksanakan… tp gak pa2 semua ada proses belajar

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: