Beranda > Isu Sosial > GENDER dan PERILAKU MEROKOK

GENDER dan PERILAKU MEROKOK


Perilaku merokok saat ini merupan sudah sangat wajar dipandang oleh para remaja, khususnya remaja laki-laki. Bahkan timbul sebutan “tidak wajar” ketika pria dewasa tidak melakukan tindakan tersebut—merokok–.

Tanggapan akan perilaku merokok sendiri bermunculan dari berbagai prespektif. Berbagai kalangan memandang perilaku tersebut berdasar prespektifnya masing-masing, mulai dari sudut pandang kedokteran, lingkungan, ekonomi, bahkan agama. Dari berbagai pandangan tersebut sebagian besar mengarahkan bahwa merokok memiliki dampak negative. Bahkan dari prespektif ekonomi sendiri yang mengatakan bahwa, adanya rokok dapat memberikan kontribusi tersendiri terhadap pendapatan Negara, ketika ditinjau ulang, yaitu dari sifat komsumtif para pecandu rokok berkembang menjadi lebih akut seiring dengan tingkat konsumsi perokok tersebut.

Lebih dari itu munculah perdebatan yang mengarah tidak pada konten permasalahannya. Dari sebagian pihak berpendapat bahwa perilaku merokok itu biasa dilakukan siapa saja, bahkan wanita sekalipun. Maka kemudian mengarahkan pada going up , oleh para wanita pengkonsumsi rokok dengan goal-nya menyebarkan opini “bahwa perilaku merokok wajar dilakukan oleh wanita”, karena hal tersebut ukanlah merupakan perilaku yang dapat dimonopoli para lelaki.

Disuatu pihak menguatkan, bahwa perilaku merokok, merupakan hal wajar yang dapat dilakukan siapa saja, yang tidak dapat dibatasi oleh jenis kelamin maupun gender, stereotype wanita seharusnya tidak merokok hanya sekedar kebiasaan semata yang sesungguhnya sesuai dengan perkembangan perilaku masyarakat. Maka ketika para wanita perokok sekedarnya saja menunjukkan perilakunya, tentu tidak ada pandangan negative lagi terhadap wanita perokok, karena merokok sendiri merupakan perilaku ynag wajar dilakukan oleh siapa saja. Sedangkan di pihak lain berasumsi bahwa nilai moral seorang wanita akan luntur ketika ia merokok. Hal yang menjadi titik berat disini adalah masih pada nilai normati seorang wanita, yang pada khususnya pandangan budaya Indonesia terhadap wanita.

Perdebatan diatas tersebut kemudian semakin dipelajari dan dikaji, yang sesungguhnya hanya memikirkan hal yang tidak mengarahkan pada permasalahan dasar. Dimana perilaku merokok bukanlah sebuah permasalahkan yang menitik beratkan pada pada kebudayaan lelaki dan wanita suatu bangsa ataupun daerah. Masyarakat kemudian melupakan akar permasalahan perilaku merokok yang seharusnya dikaji dalam berbagai prespektif seperti kesehatan, lingkungan, ekonomi, dan juga agama. Sudah barang tentu dari kesemuanya menunjukkan bahwa perilaku merokok tersebut lebih bayak memiliki dampak negative.

Maka muncul hal yang sangat menarik dari fenomena masyarakat yang sebagian besar sudah mengetahui dapak negatifnya—perilaku merokok–, namun terus bersikeras merasionalisasikan dan peng-halal-an tindakannya, dari yang berdalih untuk menghilangkan stress, ulama tidak sepenuhnya mengharamkan, sapai menyejahterakan karyawan persahaan rokok atau pun dokter. Lebih dari itu dengan kasap mata, telah nyata peringatan yang tertera dalam setiap iklan maupun kardus kokok “merokok dapat menyebabkan, serangan jantung, impotensi dan gangguan kehamilan dan janin”, yang senyata-nyata dapat dipahami dan merupakan pernyataan yang ilmiah alias dapat dibuktikan.

Oleh karena itu, dalam menanggapi perilaku merokok, janganlah berfokos pada permasalahan yang dangkal, seperti terjebak dalam permasalahan gender. Ketika dikaji lebih lanjut konsumerisme rokok ternyata disebabkan oleh rusaknya sikap mental. Hal tersebutlah yang kemidian megakibatkan pendapat dan peringatann dari berbagai pihak, dengan mudah dapat ditagkis dengan mudah oleh para pecandu rokok, oleh karana selalu yang kita bidik merupakan hal yang rasional. Oleh karena itu, ketika akan mengadakan pembenahan, dalam hal ini dari perilaku merokok maka tujukan pada sesuatu yang mendasarinya, pada konteks ini adalah sikap mental.

Kategori:Isu Sosial
  1. Desember 23, 2008 pukul 10:29 pm

    “Hal tersebutlah yang kemidian megakibatkan pendapat dan peringatann dari berbagai pihak, dengan mudah dapat ditagkis dengan mudah oleh para pecandu rokok, oleh karana selalu yang kita bidik merupakan hal yang rasional”

    benar2 saya setuju….sebagai perokok, saya setujuh!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
    coba deh coba sekali-sekali, he2!!!!!

    kalau menurutku, hal tersebut adalah pilihan dalam perilaku merespon stress-tapi maksud saya tidak hanya stimulus-respon lho (nanti di cap Behavioris lagi.he2!!!!, kita kan bukan anjing…..ha2!!!! kayak Pavlov aja yah!!!!!). ada orang yang yang ketika sterss responnya jalan-jalan, nonton film, merokok, bahkan seks, ataupun ‘wellgromed method’ yang dipakai untuk meresponnya. tulisannya bener gak sih, maklumlah saya kan bukan mahasiswa psikologi.
    yah itu aja deh, dah cape’ ne…..barusan kasih komen yang tulisan “Bahaya Subyektivitas Manusia” itu, banyak bgt!!!!!
    wassalam.

    sorry yang lain gak tak baca…..padahal penghargaan tertinggi dari seorang ilmuwan adalah ketika tulisannya dibaca oranga dan dipahami, apalagi dikritik….pasti bahagianya setengah mati. eksistensi bro!!!! tapi kan paling gak udah ada esensinya, ya gak.he2!!!!!!

    eh, ngomong2 tentang eksistensi-esensi, saya jadi ingat pertanyaannya kaum fenomenolog-eksistensialisme,
    esensi mendahului eksistensi, atau eksistensi mendahului esensi yah????????? kalau J.P. Sartre sih, esensi mendahului eksistensi??? menurut anda?????

    wassalam

    kasih komen ke blog ku ya bang!!!!!!!!!!!!!!!!!!! terima kasih
    (meskipun pakai ‘Bang-tapi bukan HMI lho, anda kan IMM- tahu maksudku gak Bang.he2!!!!!!!)
    wassalam lagi ah……
    yang ini bener2 wassalam deh…….. bye, C U

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: